Bank Ide: lumbung padi penulis

26 01 2010


UNTUK bisa menjalankan suatu usaha, seorang harus punya investasi. Investasi bisa berupa barang atau uang. Begitupun seorang penulis, harus memiliki investasi utama. Investasi itu tak lain adalah Ide. Namun dalam pemunculan ide tidaklah serapi dan semudah yang dibayangkan. Adakalanya ide bisa mampet, adakalanya juga muncul sangat banyak. Kadang juga di tengah kita berkarya terbersitlah ide yang sama sekali berbeda dengan karya yang kita kerjakan. Begitu pun, ide-ide yang bagus kadang terlupakan karena tidak sempat kita sentuh untuk waktu yang lama. Penulis yang baik mengatasi hal-hal tersebut dengan membuat Bank Ide. Pahami perlunya bank ide tersebut.

Apa sih Bank Ide itu? Bank Ide adalah kumpulan dari ide-ide yang diorganisasi oleh seorang pengide untuk selanjutnya menjadi akses bagi sang pengide untuk mendapatkan ide yang diperlukannya. Dengan demikian Bank Ide tidak bisa ditolak keberadaannya oleh seorang penulis. Bank Ide itu seperti napas jangka panjang seorang penulis.

Dilihat dari fungsinya, Bank Ide memiliki tiga peranan:

1. Sebagai arsip ide.

Ide-ide bisa muncul sangat banyak, atau ada satu waktu dimana kita mudah sekali menggagas ide. Ide-ide itu tak mungkin bisa tertangani semuanya. Sementara kalau ditinggalkan akan segera terlupakan oleh berjalannya waktu. Di sinilah ide-ide itu perlu diarsipkan ke dalam Bank Ide. Setelah disimpan dalam Bank Ide, ide-ide lama takkan mudah terlupakan (meski mungkin terjadi reduksi). Kapan pun sang penulis ingin mengakses kembali ide tersebut bisa dilakukan. Ide-ide lama tidak perlu hilang kan?

2. Sebagai stok gagasan.

Ide-ide yang diarsipkan dalam Bank Ide akan mengumpul. Penulis yang sampai pada kebuntuan gagasan tidak akan sampai kehabisan gagasan karena bisa membuka kembali tumpukan ide yang terkumpul di Bank Ide.

3. Sebagai pengembangan gagasan.

Dengan membuka kembali arsip-arsip ide sebelumnya, terkadang seorang penulis akan menemukan gagasan baru. Kenapa? Karena kumpulan gagasan itu seperti semesta yang saling terkait, dimana di dalamnya seorang penulis bisa “bermain-main”, membuka kembali kenangan dengan pikiran sudah memiliki informasi terbaru.

Ide lama + Informasi terbaru = eskplorasi ide

Penyusunan Bank Ide bisa ke dalam berbagai cara. Namun pada prinsipnya melalui dua cara:

Spontanitas

Penyusunan Bank Ide dilakukan segera setelah kilatan gagasan pertama terbersit. Gagasan-gagasan yang didapat pun masih samar. Namun karena sifatnya yang sekilas muncul dan tanpa diduga munculnya, maka diperlukan segera mencatatnya dalam Bank Ide. Cara mencatat gagasan seperti ini kebanyakan dengan visual/kode-kode. Bank Ide spontan biasanya berisi banyak gagasan, sepotong-sepotong, penuh coretan kode dan gambar.

Pengendapan

Penyusunannya melalui proses pengendapan yang lama dan berkembang. Catatan dalam Bank Ide yang melewati pengendapan biasanya lebih banyak menggunakan tulisan (kecuali untuk ide-ide yang memang menuntut visual). Tulisan-tulisan itu terangkai satu sama lain, gagasan kemarin dengan pengembangan hari ini saling melengkapi. Bahkan dalam beberapa kasus, gagasan itu seolah sudah matang, saking lengkapnya yang tertulis.

BENTUK Bank Ide bisa bermacam-macam, tergantung kondisi dari sang penulis. Ada Bank Ide yang tersimpan di tempat aman, ada juga Bank Ide yang dibawa ke mana-mana. Seorang yang menginginkan bisa merekam ide setiap saat membutuhkan Bank Ide yang portable. Saat ini bahkan sudah banyak peralatan portable semacam PDA dan lainnya yang menunjang penyusunan Bank Ide.

Bentuk pengisian Bank Ide pun bisa bermacam-macam:

  1. Visual/kode: Ide-ide yang muncul dituliskan dalam bentuk gambar, atau kode-kode yang hanya dipahami si penulis. Karena pada dasarnya otak kita bekerja dengan cara visual sangatlah mudah menggunakan bahasa ini.
  2. Coretan/notes: Ide-ide yang muncul dituliskan dalam bentuk coretan, atau note-note kecil. Tulisan gaya ini sebenarnya juga menggunakan bahasa kode namun lebih berbentuk tulisan.
  3. Tulisan tertata: ide-ide yang muncul dituliskan lebih mendetail dan tertata. Mungkin agak capek dan lama melakukannya, namun kemungkinan terjadinya reduksi oleh waktu kecil sekali. Gaya tulis semacam ini tentunya tidak bisa dilakukan dengan sarana portable.
  4. File digital: Seiring dengan kemajuan teknologi maka ide-ide bisa dengan mudah dituliskan dalam bentuk digital. Keuntungan cara ini adalah data bisa diback-up sehingga kemungkinan rusak atau hilang kecil sekali. Kelemahannya hanyalah membutuhkan ketrampilan lebih dan perangkat yang sedikit mahal.

Bank Ide adalah semacam lumbung padi bagi penulis, bila tak ingin kelaparan ide tentu isilah terus lumbung tersebut. Anda akan terbebas dari rasa takut akan kehabisan gagasan, karena Bank Ide tidak hanya membuat anda mampu menggali kembali ide-ide lama melainkan juga mengembangkannya menjadi ide-ide baru.

Anto—Cornerstone


Actions

Information

2 responses

26 01 2010
Hotma di Hita L. Tobing

Ya. Betul. Bank ide adalah lumbung padi yang belum disemaikan, ditanam, disiangi, dipelihara, disabit, dipilah, dijemur, ditumbuk, dipilah-pilah untuk dimasak dan siap untuk disajikan.

Sudah ada lumbungnya, tetapi keteraturan untuk menulis dan merangkai kata-kata ke dalam bahasa yang dimengertilah yang perlu segera diejawantahkan.
Hanya insan yang bijaklah yang mau dan mampu melakukannya.

Sawahbesar
26/1/2010/10.30 – sagang

15 02 2010
Audelia

Betul juga ya.. sebaiknya ide-ide begitu terpikir langsung dicatat, supaya bisa digali kembali. Artikelnya bagus! =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: