Delapan Unsur Pembentuk Komik

25 01 2010

SIAPA yang tidak tahu komik? Dan siapa yang tidak suka komik? Apalagi dengan makin membanjirnya komik-komik impor dari Asia (Jepang, Hongkong dan Korea) kita makin gandrung dengan seni yang satu ini. Dari ‘suka’ berkembang menjadi ‘ingin bisa’ membuat. Kebanyakan dari kita masih menganggap betapa mudahnya membuat sebuah komik, yang sekilas kita pasti setuju bila unsur pembentuk komik itu tak lebih adalah gambar dan cerita. Namun sebenarnya, selama saya menerjuni dunia komik selama 17 tahun, terdapat delapan unsur pembentuk komik. Dengan kompleksitas seperti ini tidaklah berlebihan bila saya katakan komik adalah seni tingkat tinggi, menuntut banyak sekali skill (mungkin inilah penyebab sulitnya komik Indonesia bangkit). Bagi kru CORNERSTONE yang ingin mengembangkan diri di seni komik, pahami kedelapan unsur pembentuk komik bagus ini:

1. Unsur Ilustrasi.

Ini yang paling kentara dan paling dipahami semua orang. Komik adalah sejumlah gambar yang terangkai dan membentuk jalinan cerita. Karena itu seorang ilustrastor komik dituntut memiliki keahlian membuat gambar yang konsisten. Seorang yang hanya bagus membuat gambar sekali dan tak sanggup mengulanginya lagi dengan mimik dan sudut berbeda disangsikan akan mampu menjadi ilustrastor komik. Dan sebagaimana seni lukis, illustrator komik dituntut juga memahami komposisi warna: warna alam, warna ceria, warna malam, warna kesedihan, dan lain sebagainya.

2. Unsur Cerita/Skenario

Sebagaimana sebuah film, komik juga menuntut adanya skenario. Seorang penulis komik haruslah mampu membuat rangkaian cerita yang menarik, menyusun dialog yang hidup, mampu membuat klimaks dan anti-klimaks. Dia harus bisa mendeteksi kebutuhan pembacanya dan menghasilkan cerita sesuai keinginan konsumen itu. Dengan demikian seorang penulis komik harus memiliki wawasan yang sangat luas, berpikiran terbuka dan imajinatif.

3. Unsur Teater

Seorang komikus yang baik dituntut mampu menyusun serangkaian karakter yang hidup. Karakter yang memiliki nyawa dan konsisten. Karenanya seorang komikus mampu menghadirkan bahasa tubuh yang sesuai dengan karakter. Mimik muka, gerakan, dan lain sebagainya yang kesemuanya itu juga merupakan unsur dari seni drama/teater. Dia mampu menghadirkan adegan yang dramatis, yang bisa menyeret pembaca ke dalam semesta jiwa tokoh-tokohnya. Sebagai contoh, seorang gadis yang hatinya terluka dan marah, oleh komikus yang baik akan digambarkan sedang mengacungkan pistol sembari menangis di tengah guyuran hujan. Kita akan merasakan sisi dramatis pada adegan semacam ini. Seni ini mutlak harus dikuasai seorang komikus.

4. Unsur Gaya Busana.

Tiap karakter tentu tampil dengan busana berbeda-beda sesuai dengan watak dan keinginan tokoh tersebut. Bila seorang komikus mampu menghadirkan karakter yang hidup, dia pasti juga bisa menghadirkan tata busana yang sesuai. Karena itu seorang komikus dituntut juga mampu merangkai busana. Kedalaman pemahamannya tentang busana harus cukup kuat. Ada busana yang sesuai konteks sejarah, ada yang kontemporer, ada yang fantasi, dan lain sebagainya. Tak hanya mampu memahami tata busana, komikus juga dituntut memahami tata letak ruangan, interior maupun exterior. Benda-benda mekanik, icon-icon dan tata bentuk yang lain. Jadi, seorang komikus adalah juga seorang arsitek.

5. Unsur Artistik/Layout

Sebuah komik hadir tidak dalam bentuk rangkaian tulisan. Sebuah komik hadir dan berkomunikasi dengan pembacanya dengan bahasa visual. Maka seorang komikus dituntut memiliki kemampuan dalam tata letak/layout. Dalam selembar halaman komik dia harus memberi titik penekanan, mengatur frame-frame yang ada hingga terangkai dan nyaman dilihat dan dibaca, pengaturan besar kecil antar frame, besar-kecil huruf dan gambar yang dihasilkan, komposisi antara besar kotak narasi/balon dialog dengan banyaknya tulisan yang ada di dalamnya, dan lain sebagainya. Pendeknya, seorang komikus adalah juga seorang layouter.

6. Unsur Seni Kamera/Sudut Pandang

Karena menggunakan bahasa visual, komikus harus mampu mengambil sudut pandang pembaca sebagai sudut angle. Seorang yang pintar menggambar atau melukis belum tentu memiliki kemampuan di seni angle. Seorang komikus dituntut sangat menguasai seni ini, karena inilah yang membuat sebuah komik terasa hidup dan dinamis. Jadi, dalam membuat sebuah komik, seorang komikus tak hanya berperan sebagai sutradara melainkan juga sebagai kameramen.

7. Unsur Psikologi

Karena harus merangkai sejumlah karakter untuk tokoh dalam ceritanya, seorang komikus dituntut memiliki kemampuan psikologi, atau minimal mengetahui psikologi dasar manusia. Dia harus membangun karakter yang bersikap, hidup dan mengambil keputusan. Tiap karakter memiliki psikologi yang berbeda. Begitu pun reaksinya terhadap masalah tentu berbeda. Kesulitan komikus dibanding penulis novel adalah dia harus menghadirkan reaksi tersebut dalam bahasa visual, bahasa mimik teatrikal, lengkap dengan tata warna dan cahaya yang melingkupinya.

8. Unsur Sulap.

Special Effect dalam film pernah dinobatkan sebagai sulap paling mutakhir abad 20: seni sulap tingkat tinggi. Bayangkan serangkaian special effect, seni teatrikal dan musik dirangkai dan mampu menghisap penontonnya tercerabut dari realita. Nyaris sama dengan kondisi tersebut, komik adalah seni sulap tinggi juga. Seorang komikus mampu merangkai gambar-gambar, tulisan, dan frame-frame menjadi sebuah dunia yang hidup. Sebuah komik yang baik mampu menyihir pembacanya untuk masuk ke dalamnya. Tulisan-tulisan semisal “brak”, “duaar”, atau “dor” mampu bergaung di dalam benak penikmatnya. Kepala pembaca pun mampu tergerak-gerak dipermainkan titik tekan gambar ataupun angle yang disajikan. Benar-benar seni yang menyihir.

Kesimpulannya adalah, komik adalah memang seni tingkat tinggi. Pembuatannya menuntut berbagai bentuk skil yang kompleks. Seorang komikus adalah juga seorang illustrator, pelukis, periset, penulis scenario, sutradara, pemain teater, ahli busana, arsitek, decorator, layouter, designer, kameramen, psikolog dan sekaligus pesulap kompleks. Tak ada yang biasa dan mudah sepanjang berbicara tentang pembuatan sebuah komik.

Anto—Cornerstone


Actions

Information

One response

2 06 2010
ariocommunication

Seorang yang hanya bagus membuat gambar sekali dan tak sanggup mengulanginya lagi dengan mimik dan sudut berbeda disangsikan akan mampu menjadi ilustrastor komik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: