KOEN SETYAWAN: ”Saya tidak pernah menghitung untung-ruginya”

18 01 2010


BICARA tentang buku anak dan referensi, takkan lepas dari satu nama yang sangat aktif di jalur ini: Koen Setyawan. Saya bertemu dengannya untuk pertama kali saat acara Gathering Penulis Elexmedia di gedung Kompas-Gramedia Surabaya. Bila dihitung jumlah buku yang sudah dihasilkan cowok Libra ini, kita akan terkejut, mencapai 70 buku. Tak hanya aktif di dunia buku anak, pengagum Davinci Codes ini juga akftif menulis novel. Novel terbarunya: Giganto, cukup fenomenal, yang menurut Andrea Hirata adalah novel yang cerdas. Di samping itu ada sisi lain dari Mas Koen yang patut kita simak, Mas Koen adalah penulis yang memantapkan diri di jalur freelance. Bagi kru CORNERSTONE yang ingin juga berada di jalur freelance bisa belajar banyak dari Mas Koen. Sangat beruntung kita berhasil mendapat diskusi kecil dengannya. Berikut wawancaranya:

Cornerstone: Sampai sejauh ini, sudah berapa banyak buku yang dihasilkan Mas Koen? Judul-judulnya juga dong…

Koen Setyawan: Sekitar 70-an ya untuk buku anak. Untuk novel baru 2, Giganto (2009) dan Kemamang (2010). Kebanyakan buku saya seri. Masing-masing biasanya terdiri atas 3 hingga 4 judul buku.

  1. Seri Pesona Fauna Indonesia (Elex Media Komputindo)
  2. Seri Apa Bedanya (Elex Media Komputindo)
  3. Seri Mewarnai Binatang Indonesia (Elex Media Komputindo)
  4. Seri Menebak Gambar (Gramedia Pustaka Utama)
  5. Seri Membaca Gambar (Gramedia Pustaka Utama)
  6. Seri Binatang Langka Indonesia (Elex Media Komputindo)
  7. Seri Pingo (Gramedia Pustaka Utama)
  8. Seri Jojo Kucing (Gramedia Pustaka Utama)
  9. Seri Siapa Yang… (Gramedia Pustaka Utama)
  10. Seri Mengenal Bentuk (Gramedia Pustaka Utama)
  11. Seri Temukan dan Warnai (Bumi Aksara Kids)
  12. Seri Mewarnai Dongeng Asia (Gramedia Pustaka Utama)
  13. Seri Predator (Elex Media Komputindo)
  14. Seri Survival (Elex Media Komputindo)
  15. Seri Look and Discover (Erlangga for Kids)
  16. Seri I can (Bumi Aksara Kids)
  17. Menangkap Unicorn (Dar!Mizan)
  18. Giganto (Edelweis)
  19. Kemamang (Goodfaith)

Wah, banyak sekali yang sudah Mas Koen hasilkan. Susah nggak sih bikin buku, apalagi untuk buku-buku referensi yang membutuhkan banyak gambar?

Untuk buku yang mudah mendapatkan referensinya, penulisannya jadi lebih mudah. Untuk bahan yang sulit mendapatkan referensi, jadi tantangan tersendiri bagi saya. Kalau kita nyaman, sepertinya tidak ada yang sulit.

Bicara tentang biaya nih, Mas, untuk membuat sebuah buku sains kita harus betul-betul menggali referensi, yang semua itu biayanya terkadang tidak sedikit. Menurut Mas Koen sepadan gak biaya pencarian referensi dengan hasil buku tersebut setelah terbit?

Saya tidak pernah menghitung berapa biaya yang saya keluarkan untuk mencari referensi. Mungkin saja besar, tapi selama kita bisa menikmatinya, jadi lebih mudah. Setelah terbit rasanya sepadan. Sekali lagi belum pernah saya hitung untung ruginya, ha…ha…ha.

Kalau boleh tahu, berapa lama Mas Koen menyelesaikan satu buku referensi?

Dengan ilustrasinya sekitar dua minggu.

Apakah respon pasar mempengaruhi Mas Koen dalam berkarya?

Ya jelas, tetapi tidak seluruhnya. Setiap penulis punya style dan pilihan genre. Itu yang membuat mereka unik. Respon pasar penting tetapi jangan terlalu dibuai dan menuruti selera pasar. Saya selalu percaya setiap pembaca ingin alternatif. Kitalah yang harus menyediakannya. Jangan biarkan pasar mendikte kita karena tugas kita bukan hanya menjual, tetapi juga memberikan edukasi. Kalau di sc-fi ya tentang sains dan ilmu pengetahuannya. Jadi bisa saja saya misalnya menulis buku horor karena misalnya trennya lagi di situ. Tetapi horornya harus yang memasukkan sains, logis juga dan cerdas.

Oya, untuk penerbitan buku kan memakai 2 sistem, yakni royalti atau jual putus. Nah, menurut Mas Koen lebih menguntungkan mana sih antara dua sistem itu, dan bagaimana cara seorang penulis bisa mengambil keputusan terbaik bila naskahnya ditawari dua sistem tersebut? Yah, kita kan takut nyesal di belakang hari…

Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Dengan beli putus, uang yang kita terima lebih cepat. Tetapi dari perhitungan sebenarnya lebih kecil dan lagi jika buku kita laku dan dicetak ulang, kita tidak dapat apa-apa lagi. Kalau saya lebih suka pakai royalti, tetapi pastikan dalam surat perjanjian bahwa kita harus dapat uang muka. Memang ada yang tidak menawarkan uang muka, tetapi sebagian besar buku saya memakai uang muka.

Apakah Mas Koen percaya ada penerbit-penerbit yang “nakal”, dalam arti memanipulasi jumlah cetakan atau hasil penjualan, bahkan sampai pencurian gagasan? Bagaimana sih langkah terbaik yang bisa diambil penulis?

Saya berpikir positif saja. Tapi mungkin saja ada yang seperti itu. Terus terang kepercayaan sangat penting. Memang saya belum menemukan cara yang pas untuk memonitor berapa buku yang dicetak, kecuali lewat surat perjanjian. Cara terbaik menurut saya adalah tidak tergantung pada satu penerbit. Di masing-masing penerbit mereka juga saling mengawasi, jadi kita harus punya banyak informasi. Ini satu hal yang juga harus dimiliki oleh penulis. Jadi kita tidak hanya harus bisa menulis tetapi juga harus memahami dunia penerbitan. Jika anda punya manajer, itu akan lebih mudah.

Menurut Mas Koen, langkah apa saja yang bisa dilakukan penulis freelance agar hubungannya tetap baik dengan penerbit?

Sekarang banyak milinglist dan grup di facebook, semuanya jadi lebih mudah untuk memelihara hubungan. Namun kalau saya suka juga sering diskusi dengan penerbit untuk menyamakan persepsi dan menggali ide-ide segar. Sering-sering saja mampir ke penerbit atau mengikuti acara mereka.

Sebagai seorang freelance, kalau boleh sharing, suka dukanya apa aja sih, Mas?

Saya pikir lingkungan saya belum siap dengan kata freelance. Mereka nyaman dengan pekerjaan kantor atau jenis pekerjaan lain yang bisa mereka definisikan. Saya pikir di lingkungan saya, penulis tidak dianggap pekerjaan, melainkan hobi yang tak bisa menjamin hidup layak dan bla bla bla. Mungkin saya yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan saya. Saya kurang berusaha keras menjelaskan pekerjaan saya sejelas-jelasnya. Ini semacam keengganan dan kekhawatiran karena berdasarkan pengalaman, seringkali orang yang saya jelaskan malah menyarankan saya ganti pekerjaan ha….ha….ha. Begitulah. Tapi di lingkungan saya yang baru, keadaannya lebih baik. Mungkin juga karena bersamaan waktunya dengan peningkatan karir yang sedah saya mulai bertahun-tahun yang lalu. Sekarang banyak teman yang mendukung saya, meskipun keluarga saya belum banyak berubah. Ada banyak orang yang pengin mengajak diskusi tentang penulisan. Dan saya merasa beruntung menjadi penulis.

Nah, yang ini pertanyaan paling krusial, bisakah seseorang hidup dari freelance?

Pertama-tama kita harus tahu apa freelance itu. Banyak yang menganggap freelance adalah pekerjaan sampingan. Banyak yang takut dibilang kerja freelance karena kita sudah terbiasa dengan pekerjaan formal. Bagi saya freelance adalah pilihan. Ini bukan hanya pekerjaan, melainkan sebuah karir. Jika ini sebuah pilihan, kita harus siap dengan konsekuensinya. Sebuah karir artinya sebuah pekerjaan yang kita sadari, kita hayati, bukan hanya sebuah pekerjaan rutin, ada tujuan yang kita harus capai. Kitalah yang mengontrol tingkat keberhasilan kita karena kita harus tahu tahap-tahap pencapaiannya.

Kalau bicara tentang perbukuan nih, menurut Mas Koen bagaimana perkembangan buku di tanah air?

Menarik. Minat baca, terutama di kota-kota besar mulai meningkat. Membaca mulai menjadi gaya hidup, meskipun banyak juga yang hanya ikut-ikutan. Tugas penulis adalah mendorong minat baca ke arah lebih tinggi lagi sekaligus meningkatkan apreasiasi pembaca dengan menawarkan buku-buku berkualitas.

Nah, kita bincang mengenai novel Mas Koen yang spetakuler: Giganto. Jujur, dari covernya sudah sangat menarik, kesan scifinya terasa banget. Idenya dari mana sih, Mas, kok bisa menulis sekreatif itu?

Dulu saya pernah menemukan majalah lama. Artikelnya tentang Gigantopithecus. Saya fotocopy dan saya baca berulang-ulang. Belakangan saya cari informasi serupa di internet dan buku. Hasilnya menakjubkan, saya jadi tergila-gila pada gigantopithecus. Saya akhirnya menulis artikel tentang giganto dengan data-data terbaru yang berhasil saya kumpulkan. Artikelnya dimuat di sebuah majalah. Kemudian saya pikir mengapa tidak dibuat menjadi novel saja. Akhirnya beberapa tahun kemudian naskah novelnya jadi.

Cerita dong…sedikit isinya…hehehe?

Isinya sebenarnya dimulai dari folklore tentang makluk mirip manusia mirip kera di sebuah kampung di tepian hutan. Penduduk percaya ada batutut, julukan untuk makluk misterius itu yang menjaga hutan larangan jauh di dalam hutan. Siapapun tak akan selamat jika masuk ke hutan larangan. Kemudian seorang peneliti orangutan nekad masuk ke hutan itu dan menghilang. Enam tahun kemudian, seorang bocah tanpa sengaja memasuki gerbang hutan larangan dan bertemu dengan batutut. Ia kembali dengan linglung. Ketika sebuah tim datang ke kampung dan mencoba menelusuri jejak sang peneliti, sang bocah kembali menghilang. Bersama penduduk kampung yang ketakutan mereka memasuki hutan larangan yang misterius dan berusaha menguak rahasianya. Celakanya anggota-anggota tim punya rencana sendiri-sendiri. Mereka percaya sang batutut tak lain adalah keturunan Gigantopithecus, kera raksasa purba yang telah punah 100.000 ribu tahun yang lalu.

Nah, dari novel sains-fiksi Giganto, pesan moral apa yang Mas Koen mau sampaikan ke pembaca semua?

Pesan moralnya adalah kita sangat kaya. Kekayaan biodiversitas kita nomor dua di dunia setelah Brazil. Tak banyak yang tahu dan tak banyak yang berusaha menyelaminya. Saya ingin pembaca lebih banyak mengenal kekayaan alam kita sekaligus menghargai penduduk lokal yang telah menjaganya dengan bijak. Buku ini saya persembahkan untuk para penduduk lokal yang melestarikan sekaligus memanfaatkan alam dengan bijak. Kita harus banyak belajar dari mereka. Novel ini sekaligus sebuah alternatif dari berbagai genre novel yang sudah banyak ditulis.

Terima kasih, ya Mas Koen untuk sharing pengalamannya….

Bagi yang ingin berkenalan lebih jauh dengan Koen Setyawan, bisa dihubungi di:

Email: koensetyawan@yahoo.com


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: