Menjadi Freelance Yang Optimal

7 01 2010


SEPERTI lampu yang memikat para ngengat, kehidupan freelancer sangat menggoda terutama bagi mereka yang jenuh terjebak rutinitas yang mematikan kreatifitas. Pada dasarnya diri seorang freelancer adalah sebuah perusahaan, atau dengan kata lain kerja seorang freelancer adalah mengindustrikan diri sendiri. Dirinyalah yang menjadi manajer sekaligus pelaksana. Karenanya membranding diri sendiri adalah tuntutan utama seorang freelancer. Membranding diri sendiri bisa lewat iklan, baik dunia cyber maupun media lainnya. Lewat pergaulan. Dan yang utama lewat pelayanan pada klien. Klien yang puas bukan mustahil bila terus melanjutkan kerjasamanya. Ambillah contoh yang berkaitan dengan dunia CORNERSTONE: penerbitan. Dalam dunia penerbitan, klien seorang freelancer adalah penerbit dan pembaca. Memuaskan penerbit akan membuat mereka tetap memberikan order, atau menerbitkan karya sang freelancer, sedang memuaskan pembaca akan membuat karya terbitannya akan terus ditunggu. Bila sudah meraih keduanya, baik kerjasama dengan penerbit yang terjalin mesra, maupun serapan pasar yang posistif, maka seorang freelancer mencapai titik optimal, siap melesat menuju profesional.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan seorang freelancer untuk membranding/mengoptimalkan diri mereka:

  1. Kenali proyek yang ditawarkan klien. Banyak freelancer jatuh pada masalah mengenali proyek yang ditawarkan. Karena begitu berharganya sebuah proyek, seorang freelance kadang keburu melonjak gembira begitu mendapat tawaran proyek dari penerbit. Lalu ketika sudah berjalan dan ada kesepakatan, baru disadari proyek yang diterima di luar kemampuannya untuk membuat. Sebaiknya periksa dulu detail proyek yang diterima, ukur dengan kemampuan yang dimiliki atau kemampuan team yang bisa dibentuk.
  2. Kenali klien anda. Tidak semua penerbit baik, banyak sekali penerbit yang tidak baik, menipu freelance dengan cara mencuri gagasan sang freelancer. Penipuan yang paling umum dari penerbit adalah manipulasi jumlah cetakan, cetak ulang, dan hasil penjualan. Sebaiknya freelancer mengenali betul penerbit yang akan dijadikan klien. Jangan lupa untuk meminta dp (down payment). Sebelum ada kesepakatan yang tertulis dan ditandatangani kedua belah pihak, jangan memberikan seluruh hasil karya pada penerbit.
  3. Kenali harga pasar. Selama bekerja di litbang Masmedia, CORNERSTONE mendapati banyak sekali freelancer yang sudah memantapkan diri pada profesionalitas mematok harga sangat tinggi. Alasan mereka biasanya menstandarkan dengan harga luar negeri. Akhirnya CORNERSTONE yang saat itu dalam posisi penerbit memutuskan tidak melanjutkan kerjasama. Setiap penerbit pasti mengerti harga “normal” di tanah air. Hendaknya freelancer juga mengerti ini. Terimalah kenyataan situasi pasar buku di tanah air dengan di luar negeri sangat berbeda jauh.
  4. Perhitungkan order yang masuk. Seorang freelancer akan sangat makmur bila order yang masuk sangat banyak. Kadang karena saking senangnya freelancer lupa bagaimana harus menyortir order-order itu. Semua diterima sampai akhirnya waktu pengerjaan yang saling berbenturan, deadline yang tidak terpenuhi dan akhirnya hancurlah nama kita di mata penerbit. Sebaiknya seorang freelance betul-betul memiliki jadwal pasti, dan mampu mensortir tawaran yang masuk. Bila tawaran terlalu banyak, namun tak ada waktu pengerjaan sementara order itu sayang untuk dilewatkan dengan berbagai alasan, bentuklah sebuah team yang solid, bentuk sistem kerja dan pembagian yang baik.
  5. Atur waktu sebaik-baiknya. Jangan terlena dengan kebebasan waktu yang ada. Seorang freelancer yang profesional tidak akan membuang waktu percuma. Bukankah dia harus bertindak sebagai manajer sekaligus pelaksana bagi dirinya sendiri? Atur waktu sebaik-baiknya. Penuhi jadwal dan deadline tepat waktu, karena itu yang menentukan seorang freelance profesional atau tidak.
  6. Jangan plin-plan. Seorang yang profesional, akan tahu betul bagaimana harus bersikap saat menerima sebuah proyek. Dia harus segera bisa menghitung kemampuan, waktu dan deadlilne yang harus ditentukan, dan segera sesudahnya, dia cukup tegas mengungkapkannya pada klien. Bila bisa katakan ya, bila tidak katakan tidak. Jangan takut klien lari sebab penerbit lebih menghargai penulis yang tegas dan tidak plin-plan. Semua itu karena penerbit sendiri harus menentukan jadwal cetak, terbit dan distribusinya. Anto-Cornerstone

Actions

Information

2 responses

20 01 2010
dewaji

thanks untuk tipsnya

1 03 2010
chillphy

thanks yah… tips-nya menarik dan membangun…. (patut dicoba nih…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: