Masalah Seputar Penulisan

6 01 2010

MENULIS buku adalah pekerjaan yang mengasyikkan namun penuh resiko tanggung jawab. Namun bagitu ada dua kebahagiaan besar bagi seorang penulis, yakni hasil jerih payahnya mendapat harga yang pantas berupa diterimanya di pasar dengan respon positif, dan kedua adalah bila tulisannya mampu memberi warna dan inspirasi bagi pembacanya. 2 hal inilah yang kadang menjadi obat mujarab bagi seorang penulis tetap betah pada profesinya.

Menulis sebuah buku bukanlah pekerjaan mudah, dan lagi di masyarakat kita profesi sebagai penulis masih dianggap berjarak dengan realita dan masih belum diterima sepenuhnya sebagai suatu profesi yang layak. Seorang penulis harus berjuang lebih bagi eksistensi profesinya di masyarakat. Tak hanya harus menghadapi stigma masyarakat, seorang penulis ternyata juga memiliki beberapa musuh yang setiap saat senantiasa mengancam produktifitasnya dalam melahirkan karya tulis. Seorang penulis selayaknya memahami musuh-musuhnya ini dan tahu cara mengatasi mereka.

Musuh yang harus dihadapi itu adalah:

  1. Ide Buntu. Ide buntu alias mampet adalah bencana bagi seorang penulis, karena dari gagasanlah seorang penulis memulai karyanya. Jangankah ide yang hebat dan brilian, ide yang biasa-biasa saja bisa susah didapat bila ada kebuntuan gagasan. Penyebabnya masih susah dijelaskan, karena kadang mood kita sedang bagus namun tiba-tiba…stak! Ide buntu dengan sendiri tanpa alasan yang jelas. Ide buntu ini meliputi dua hal: Ide untuk memulai proyek tulis, dan ide untuk meneruskan tulisan. Untuk mengatasinya seorang penulis harus tahu berbagai trik memecah dinding kebuntuan pikiran, diantaranya dengan tehnik mindmaping, kata kunci acak, dan lain sebagainya. Dewasa ini software untuk tehnik-tehnik tersebut bahkan telah dibuat.
  2. Mood Yang Hilang. Mood, atau gairah untuk menulis tiba-tiba hilang. Ini juga menjadi masalah tersendiri bagi seorang penulis. Sangat berbahaya bagi profesi mereka yang memilih sebagai penulis freelance bila memiliki mood yang cepat berubah. Seorang penulis dituntut memiliki mood yang konstan, minimal sampai karya yang ditulisnya selesai. Ketiadaan mood bisa diatasi dengan refresing. Berhentilah sejenak dari tulisan, lakukan hal yang berbeda sama sekali/tidak bersangkut paut dengan menulis sebelum kembali ke tulisan.
  3. Ada Kesibukan Lain. Ini juga masalah yang harus diatasi seorang penulis. Misalnya, ada anggota keluarga yang sakit sehingga butuh perawatan, punya gawe menikah, atau ada teman-teman yang mengajak hang-out. Menjelaskan bahwa kita ada pekerjaan menulis tidak menyelesaikan persoalan. Cara mengatasinya adalah sang penulis harus memiliki jadwal dan target, dan harus konsisten dengan itu. Scheduling sangat diperlukan untuk mengatur komposisi antara waktu dan kesibukan menulis. Sayang sekali tidak banyak penulis yang bisa melakukan ini, karena rata-rata seorang penulis lebih suka bekerja mengalir.
  4. Kehabisan Referensi. Nah, ini juga musuh yang berbahaya. Keberadaan referensi sangat diperlukan seorang penulis, terlebih mereka yang menulis buku-buku non-fiksi. Referensi bisa “habis” bila saat memburu bahan tulisan di awal menulis tidak direncanakan dengan matang. Cara mengatasinya tentu saja research. Berburu ulang. Sebaiknya seorang penulis memiliki perangkat yang menunjang referensi dan mudah diakses, baik berupa buku-buku atau pun internet.
  5. Fokus Menjadi Goyah. Ibarat memanah, fokus adalah segalanya. Seorang penulis harus memiliki fokus dalam menulis. Bila ini goyah, misalnya berubah minat, sangat membahayakan. Banyak penulis yang menyimpan banyak gagasan bagus dan tulisan yang paruh jalan terkunci di lemari, hanya karena minatnya gampang berubah. Dalam menyelesaikan sebuah tulisan dibutuhkan waktu cukup lama, mulai dari riset sampai menuangkan ke dalam tulisan matang. Ini membutuhkan kesabaran untuk stay in focus. Kehilangan fokus diatasi dengan menggali kembali minat awal dan tujuan dari menulis, dan memeliharanya tetap di dalam hati.
  6. Jatuh Sakit. Nah kalau yang ini tak hanya membahayakan proses menulis, tapi juga jiwa sang penulis. Pekerjaan menulis rawan serangan penyakit, terutama ginjal, gangguan lambung, tulang kaki dan pinggul, ambaien, dan mata. Disamping itu perilaku penulis sendiri yang kadang mengabaikan masalah kesehatan, tidur larut (terutama saat mood sedang hebat-hebatnya untuk menulis), kurang gerak karena selalu duduk dan malas berolah raga. Mulailah membiasakan hidup sehat dan teratur, banyak minum dan jadwal yang tertata. Hilangkan paradigma seniman adalah orang yang anti aturan. Jika kesehatan prima, gagasan akan selalu segar, dengan demikian menulis jalan terus. Anto-Cornerstone


Actions

Information

One response

20 01 2010
dewaji

pingin coba tips2 yang disarankan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: