I-D-E, Langkah Awal Menulis

12 01 2010

Jika Anda tidak punya kemampuan membuat ide, Anda akan menjadi follower seumur hidup.

Hal paling mendasar mengenai menulis buku adalah “ide”. Pada dasarnya, bagi penulis ide-lah yang dijual. Buku adalah ide yang dimaterikan ke dalam kertas dengan bahan dasar tinta, dikemas sedemikian rupa, diberi harga dan akhirnya dipublish. Jadi, keliru kalau dikatakan menulis tidak membutuhkan modal; tidak memiliki bahan baku, dan seorang penulis adalah pekerja tanpa modal. Ide adalah modal sekaligus bahan baku mereka. Tidak semua orang memiliki bahan baku ini. Seorang penulis yang baik pasti memiliki sekeranjang ide. Hanya penulis pemula yang menggali ide pada saat butuh saja. Penulis profesional pasti memiliki bank ide. Bila ingin menjadi penulis profesional, kenali segala hal tentang ide berikut ini:

Dalam dunia seni pada umumnya, atau tulis-menulis pada umumnya, ada dua jenis ide. Yang pertama adalah Ide Spontan. Ide jenis ini muncul begitu saja tanpa diduga. Kadang muncul pada saat kita tidak sejalan dengan ide tersebut. Misalnya, kita sedang makan lalu ketika memperhatikan tumpahan kopi dari gelas, terbersitlah sebuah ide. Ide jenis kedua adalah Ide Akumulasi. Ide jenis ini berasal dari akumulasi, atau kumpulan ide-ide terdahulu. Akumulasi terjadi bisa karena kita sengaja mengumpulkannya, misalnya kita mengendapkan sebuah gagasan, sembari itu kita mengumpulkan referensi yang dibutuhkan. Bisa juga dengan cara tidak sengaja terkumpul dengan sendirinya, misalnya setelah bertahun-tahun kita mendalami segala hal tentang evolusi, lalu belakangan kita jadi ingin menulis sebuah cerita sains fiksi tentang serangga raksasa.

Bagaimana cara sebuah ide keluar?

Pada prinsipnya ada dua cara sebuah ide keluar, yakni cara Natural dan cara Dikondisikan. Cara natural adalah keluarnya sebuah ide secara apa adanya, spontanitas dan alami. Tidak harus sebuah ide yang terbersit spontan adalah ide yang matang, tentu masih butuh waktu lama untuk mengendapkannya. Tapi setidaknya bersitan awalnya muncul secara alami. Sementara ide yang muncul dengan cara dikondisikan adalah ide yang secara sengaja dimunculkan. Cara yang kedua ini lebih banyak dilakukan penulis yang profesional. Ide atau gagasan dimunculkan dalam kondisi yang dikehendaki, serta waktu yang dinginkan. Cara seperti ini pun masih memiliki dua mekanisme berbeda, yang pertama by order, yakni penulis mendapat order dari penerbit—order pada dasarnya adalah sebuah ide. Yang kedua adalah penggalian oleh penulis sendiri, bisa melalui riset pasar dan sebagainya.

Bagaimana cara mengonsep sebuah ide?

Ide harus diejahwantahkan ke dalam sebuah konsep. Konsep adalah cetak biru sebuah karya. Bagus sebuah konsep bagus juga sebuah karya. Ide yang brilian bila salah mengonsepnya hasilnya pun tidak akan bagus. Konsep yang bagus bahkan bisa memancing gagasan baru.

Setidaknya ada 4 cara mengonsep sebuah ide.

  1. Konsep baru/original. Dari sebuah ide kita kembangkan sebuah konsep yang murni dari gagasan kita. Tidak dipengaruhi gagasan manapun. Membuat konsep baru menuntut kecerdasan dan kerja keras extra dari sang penulis. Namun mengonsep dengan cara seperti ini akan menghasilkan karya yang original dan lebih membuat penulisnya dihargai.
  2. Konsep dari ide lama yang diangkat. Kadang ide/gagasan/konsep-konsep lama tidak selamanya kuno dan usang, bila kita mampu merangkai kembali dan memberi nyawa dengan taste baru, hasilnya tidak kalah dengan yang original.
  3. Konsep yang berasal dari pengembangan. Mengonsep dengan cara ini tidak membatasi diri dari gagasan baru atau lama, original atau tidak karena batasannya sangat tipis. Pengembangan tidak bisa dianggap original karena dikembangkan dari gagasan lain—yang bisa jadi milik orang lain—, namun juga tidak bisa dianggap non-original karena pengembangan itu sifatnya independen. Cara mengonsep dengan cara mengembangkan dari konsep yang sudah ada adalah cara yang paling sering digunakan penulis.
  4. Konsep kombinasi. Mengonsep dengan cara ini lebih tidak terbatas lagi. Dia mengombinasikan tiga cara diatas.

Darimana datangnya sebuah ide?

Ide bisa datang darimana saja. Segala hal yang terjadi di sekitar kita bisa menjadi sumber ide. Kadang hal-hal kecil yang menurut anggapan orang tidaklah terlalu penting, atau bahkan luput dari perhatian orang, bisa menjadi sumber ide yang brilian bagi mata hati seniman yang terlatih. Sebelum menjadi sebuah patung yang indah tentulah benda itu merupakan seonggok batu tak berharga bagi orang biasa, namun tidak bagi sang pemahat. Demikian juga penulis. Banyak hal yang bisa menjadi sumber inspirasinya. Ada empat macam sumber ide bagi penulis dengan empat cara sesuai indera sang penulis.

  1. Sumber yang terlihat. Ide datang melalui apa yang terlihat/dilihat sang penulis. Karena itu penulis hendaknya mengembangkan kegemaran akan membaca, atau menonton. Film dan buku adalah sumber ide yang tidak pernah ada habisnya. Sangat aneh tentunya bila ada penulis yang tidak suka membaca.
  2. Sumber yang dibicarakan. Kadang gagasan muncul secara tak sengaja dari pembicaraan, saat kita ngobrol dengan teman atau sahabat. Hal-hal biasa yang dibicarakan orang sekitar kita bisa menerbitkan gagasan. Perbanyaklah sahabat, dan jadilah pribadi yang suka berkomunikasi, bertemu dengan orang-orang baru, dan gemar diskusi.
  3. Sumber yang terdengar. Media radio ataupun pemutar musik seperti MP3 player adalah perangkat yang tak boleh tidak ada dalam semesta hidup penulis. Musik katakanlah, lebih daripada penstabil mood, namun bisa juga menjadi pemancing sebuah ide. Siaran radio, talk show, dan lainnya akan membuat makin luas semesta jiwa seorang penulis.
  4. Sumber dari pengalaman. Orang bilang pengalaman adalah guru yang baik. Seorang penulis bila mengalami sebuah pengalaman, baik sedih, gembira, terharu, hancur-lebur, dan lainnya, akan menyikapinya sebagai bertambahnya kekayaan intelektual—perbendaharaan rasa.

Dengan demikian kita mengerti sekarang betapa berharganya sebuah ide. Penemuan-penemuan besar di dunia, yang akhirnya mengubah peradaban manusia untuk selamanya, diawali dengan sebuah ide. Ide adalah pondasi peradaban, teknologi, dan kemanusiaan. Hargailah sebuah ide dan gagasan. Berubah atau tidak hidup anda dimulai dari sebuah ide/gagasan. Tidak semua orang dianugerahi kemampuan menggagas/mengide. Namun demikian kemampuan ini bisa dikembangkan, terutama bagi mereka yang berminat masuk ke dunia tulis-menulis.

Berikut adalah tips-tips mengenai mengide.

  1. Catat setiap ide yang muncul. Ide bisa muncul kapanpun tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Sebagaimana sifatnya yang spontanitas, ide juga mudah lenyap bila kita adalah orang yang tidak mempunyai daya ingat kuat. Karena itu segera catat setiap ide yang muncul. Cara mencatatnya pun tidak terbatas pada tulisan, namun bisa juga visual, tergantung mana yang menurut anda cukup bagus untuk merekam kilatan ide tersebut.
  2. Buat bank ide. Ide yang tercatat bisa disimpan untuk kemudian dibuka kapan pun kita mau. Buatlah bank ide, yang menampung sebanyak mungkin ide-ide anda. Organisir ide tersebut, gali kembali saat waktu luang dan kembangkan. Tanpa bank ide, seorang penulis profesional takkan bisa berpikir maju.
  3. Jangan meremehkan ide-ide yang biasa. Ide hebat tak selalu berasal dari hal-hal hebat. Ingatlah buku Laskar Pelangi yang oleh penulisnya hanya berdasar pengalaman pribadi dan hanya diniatkan untuk ditulis dan dihadiahkan untuk guru masa kecilnya, namun ternyata buku ini meledak di pasar dengan hebat. Jangan meremehkan ide yang biasa-biasa saja, dan jangan meremehkan orang yang menurut kacamata kita lebih rendah baik secara ekonomi maupun intelektual, karena kadang dari kesederhanaan mereka bisa memberi kita inspirasi hal-hal spektakuler.
  4. Jangan menolak pemberian orang. Yang dimaksud di sini bukanlah pemberian berupa materi, namun lebih kepada intelektual. Maksudnya adalah, jangan marah terhadap apa pun sikap orang, apa pun yang “diberikannya”, baik itu pujian maupun cacian. Itu bisa menjadi sumber ide yang tidak pernah disadari mereka. Hanya seniman yang tajam yang mampu melihat hal-hal seperti tersebut melalui kacamat berbeda.
  5. Selalu berpikiran terbuka. Menjadi penulis dituntut memiliki pikiran yang sangat terbuka. Jangan membatasi sudut pandang, tetapi bersahabatlah dengan semua kemungkinan—betapa pun mustahilnya kemungkinan itu.

Betapa luar biasa bukan mengenai ide dan mengide. Hanya pribadi-pribadi khusus yang mampu melakukan pekerjaan ide, menggagas hal-hal yang hebat, dan melalui gagasan itu sanggup mempengaruhi orang lain.

Jika anda tidak punya kemampuan membuat ide anda akan menjadi follower seumur hidup.

Anto-Cornerstone

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: